Sebuah surat sampul cokelat dari Gedung merah putih
tergeletak di rumah. Hebat juga, bi An
yang sudah bersama kami sejak Raney kecil itu, memperlakukannya dengan sangat hati-hati. “ada
tulisan RHS, pak’ katanya.
Tak lama, saya menerima wa dari seorang staf dari perusahaan
tempat ku kerja dulu. Ada lampirannya. Terbaca forwarded many times. Eh ternyata
isinya sama dengan yang diterima biAn. Tertulis RHS, tapi dikirim banyak kali. Padahal isinya bisa
diinterpretasi beragam. Untungnya seseorang pernah berujar, itulah risiko
pernah mengemban tugas di perusahaan milik negara. Ah, sudahlah. anggap saja seperti nunggu
teman yang bilang lagi otewe, yang mesti ditebak sebagai apakah udah berangkat,
di tengah jalan, atau ntar lagi tiba. Yang penting sampai juga akhirnya.

Hari ini, aku bawa surat itu. Dengan naik LRT, turun sebelum
Dukuh Atas. Enak sekali waktu keberangkatan yang presisi sehingga bisa atur
waktu dengan baik. Tiba gedung Merah Putih, ada telpon nanya sudah dimana. Pak Arif
, Kasatgas yang malang melintang di banyak hal besar ngasih brief info. Saya lihat
keakraban di tempat yang berwibawa ketika beberapa pegawai menyapa. Meski sebenarnya
sebagian besar yang duduk disitu keliatan tegang. Pun yang lewat pake rompi
dengan tangan tidak berayun dan kiri kanan dempetan di depan pusar.
Saya naik ke lt 2. Dengan tag tamu, bisa membuka gate. Isi data
sebentar, kemudian memasukkan semua bawaan ke dalam loker. Jam 10, saya ke
ruangan. Mengisi data standar seperti keluarga, pekerjaan. “Halo Pak, apa kabar”,
Sambil bawa laptop Ia menyapa ramah. Muncul dari balik ruang. Tidak usah isi itu pak, kan sudah ada data
sebelumnya. Kecuali ada perubahan. Rasanya belum lama ketika membangun kumpulan
tanya jawab yang telah digunakan di persidangan, dan
ada putusannya. Tapi yang kedua sepertinya perlu waktu. Bahkan karena alasan
medis mungkin perlu waktu lama untuk menjerat.
Dari obrolan, saya bisa merasakan upaya keras mereka. Di tengah
risiko yang mengintai, di tengah tarik ulur RUU perampasan asset, mereka terus
bekerja berdasarkan peraturan yang ada. Melihat kemungkinan lewat pertanggung
jawaban Korporasi dan pengurusnya. Kalau ini berhasil, bisa jadi rujukan untuk
kasus ke depan. Berusaha agar bisa asset recovery, kekayaan negara.
Saya membaca ulang semua yang tertulis. Dan yakin menandatangani.
Semoga membantu mengungkap kebenaran.
Kita sudah selesai Pak, terima kasih sudah bantu, mungkin
juga akan sampai sidang seperti yang lalu. Makan dulu Pak. Saya bilang kali ini
mau makan ikan bakar di pinggir sungai dekat pohon rimbun, meski cukup terik .
Melihat semangatnya, di akhir saya hanya bisa berucap “pak
Agung, semoga sukses dan teruslah berbuat baik”, sembari berharap cerita pengalamannya dan rekan-rekannya di
garis depan itu bisa ditulis. Dibukukan .
Saya pulang. Lega. Dan tidak kaget kalau nanti akan berseliweran di media online judul surat
RHS tadi.